Aktivitis pelaku dakwah nge-Ghibah?

Saudaraku para aktivis,

Tersangka kali ini kita sebut saja namanya si-Ghibah, insyaAllah kalo aktivis dakwah sangat kenal si-Ghibah, apa persamaan si-Ghibah, turunannya, apa dosanya, dan aktivis dakwah sangat anti dengan namanya ghibah. Si Akh dan Ukh tidak mau memakan bangkai saudaranya sendiri, emang aktivis kanibal apa?

Kalau para aktivis dakwah sepertinya banyak menemukan saat – saat si-Ghibah ini muncul di tengah – tengah syuro, di tengah perbicangan, di tengah – tengah curhatan, di tengah – tengah evaluasi atau debat, biasanya kalau yang kalah nih yang ngelempar si Ghibah ke forum. Banyaklah di antara aktivis yang memang   benar – benar mengingatkan untuk tidak Ghibah, tidak membongkar aib saudaranya, ada juga yang sekedar gaya – gayaan untuk tampil bijak, dan juga yang senang melayani ketika si Ghibah datang di tengah – tengah mereka.

Mau contoh?

Ustadz saya mau nanya(pertanyaan dari seorang ukh), bagaimana ya caranya untuk mengingatkan teman saya, dia saat ini sedang kena VMJ, mereka satu amanah dan memegang amanah yang penting, sekarang hubungan saya tidak baik ustadz sama si Fulana bahkan saya di kira suka ama pacarnya itu. Ayo kenapa ini contoh ghibah? Jadi, satu majelis ukhti yang menanyakan dengan penjelasan yang panjang lebar itu, itu udah pada tau siapa si Fulan dan Fulana yang sedang kena VMJ, mana majelisnya itu isinya para aktivis satu kampus semua, jadilah mereka tuh penasaran, siapa sih siapa sih? Tujuannya sih nanya untuk mencari solusi, untuk minta cara menasihati yang baik, tapi tanpa disadari itu udah ngebongkar aib saudaranya, apalagi di depan majelis yang banyak orang.

Ada lagi tentang VMJ, ceritanya si Junior nih minta nasihat ke seniornya alias kakak angkatan. Si junior ini sih udah benar gk nyebutin siapa tersangkanya cuma minta nasihat bagaimana sih untuk menasihati teman yang lagi futur, tapi si Senior ini loh penasaran banget siapa yang dimaksud si Junior. Nah di tebak – tebak lah tuh orangnya,pertama – tama sih belum menjurus ke ‘siapa’, masih nanya emang kenapa ya dik? Si adik menjawab, gak kok mba cuma nanya aja, kali – kali aja mengahadapi itu. Eh si Mba ini langsung nembak, saya juga dengar teman antum ada yang VM J ya, menohok lah tuh buat si Junior sampailah kepada menyebut nama tersangka VMJnya.

Then,

Sedang forum keluarga nih, Antum apa kabar akh? Ana dengar dari seorang akhwat, antum banyak masalah di amanah ini(kesalahan pertama, “mendengar” ada masalah, setidaknya ada ghibah yang nempel) , katanya antum  di kasih kerja kemarin gak selesai, sekarang juga gk selesai, antum di amanah lain juga begitu(kesalahan kedua, berbicara di depan saudarannya di depan forum) Udah ngebongkar, udah ngejatuhin, udah gak mandang perasaan saudaranya tuh.

Ada lagi, temanya bukan forum keluarga, tapi Ghibah berselimut tabayyun.

Akhi, ana mau tabbayun sama antum. Benar gak sih antum begini begitu. Si Akhnya menjawab, iya benar saya begini begitu. Terus yang nanyanya gimana, di dalam hati melakukan pembenaran “benar juga itu kata orang – orang”, dikasih taulah itu para penyebar isu, “iya kemarin saya sudah mentabayyun kepada beliau, terus dia ngaku, akhirnya mereka berkata iya pertama ana juga gak percaya kalo dia begitu, ternyata benar, tenot. Tersebarlah berita kebenaran hasil tabayyun itu, dan semakin banyak yang berkata, masa sih si fulan begitu, masa iya, kok bisa, sampai – sampai ada yang sombong pula dengan berkata “ya maklum aja kalau lagi future emang begitu dia”.

Terus terus,

Pemilihan ketua, jajaran penting, atau amanah pentinglah.

Jangan si Fulan, megang amanah panitia “ini” aja gak becus, kuliahnya berantakan IPKnya total parah disebutin ….., dan benar – benar hanya karena IPK kebaikan yang lain udah gak dipandang, udah tambah – tambah omongan hanya karena kata IPK, kok bisa sih ? iya bisa orang kuliah aja gak pernah masuk, kalo masuk kuliahnya telat, duduk paling belakang,  tidur, datang pas ujian doang, itu juga telat dan tau gak pas ujian ngapain? Sama juga kayak kuliah, tidur. Tuh hanya karna IPK jadi panjang. Lagi, jangan deh si ukhti orangnya banyak masalah diluar, ampe disebutin yah si ukhti itu orangnya aja suka ngomongin orang(padahal yang lagi ngomong juga lagi ngomongin orang, parah). Apalagi ya? Oh ya, pemilihan calon ketua yang dengan alasan kita menghindari mudharat yang lebih besar, kita sebutin saja kekurangannya tapi please ini Cuma forum ini yang tahu jangan sampai orang luar tau juga, what? Kita sebutin aja kekurangannya? Please jangan sampai orang lain tau? Padahal yang dengar itu kan jatuhnya kedudukannya sebagai orang lain ya.

Tema berikutnya, minta disampaikan nasihat

Ada lagi kasusnya, oh ya ukhti tolong bilangin ke fulan, tolong jangan begini begitu. Emang kenapa ukh antum gak sampaikan sendiri? Gk berani. Dengan bijak : Terus emang si fulan kenapa, kok antum nyampein nasihat seperti itu? Lah disebutin itu aib si fulan. Padahal kan cukup ye sampaikan saja nasihatnya begini begitu, gk perlu dijelasin juga kan nasihatnya kenapa adanya, mana “adanya” ini isinya karena aibnya pula.

Debat kusir,

%(@#&)*_(+(%_)I#UT_I@_#FJ@)I@_U#()%IFHOIA:rj9H@+_(#9………..(debat kusir)

Ujung – ujungnya nih yang berdebat ngomong begini, emang antum udah ngelaksanain apa sih? Antum aja kayak begini begono(aib), eh di bales lagi : *&#_)*#+(+_W)_*R#)(UCOJ+ASID)U#_@(+….(emosi), kita ini lagi ngebahas antum, kenapa antum jadi nyerang ane(panas), antum duluan ngebahas sambil ngebongkar aib ane, siapa yang ngebongkar emang itu kenyataannya(nah loh).

Saudaraku, kejadian – kejadian di atas hanya beberapa contoh ghibah, masih banyak saudaraku, dan masing – masing tempat dan waktu ada peluang Ghibah itu. Masuk ke dalam ucapan – ucapan, sikap, dan perbuatan kita. Kita juga tak sadar, terlena dan keasikan ketika bicara atau mendengarkan aib saudara kita.

Tahukah kamu saudaraku?

Rasulullah itu tau siapa – siapa saja orang munafik yang berada di kalangan umat muslim di kala itu, yang berada di barisan perang di masa itu, tapi Rasulullah tidak memberitahu di depan majelisnya, menceritakan ke banyak sahabat, tidak mengatakan Fulan adalah orang Munafik, atau Rasulullah mengatakan itu di depan barisan perang lalu mengusirnya. Tidak, saudaraku. Para sahabat itu juga melakukan kesalahan, begitu banyak ayat – ayat AlQuran dan hadits – hadits yang turun itu karena disebabkan beberapa sahabat melakukan pelanggaran, melakukan kesalahan, tapi Rasulullah tidak membongkar kepada sahabat yang lain, bahkan ada berapa kejadian yang dikala itu beberapa sahabat tidak mengetahui kalau sahabatnya melakukan kesalahan, kesalahan itu baru diketahui ketika para perawi pengumpul hadits mencari sanad – sanad dan sebab munculnya hadits

Ingatkah antum ketika Nabi Musa berdoa kepada Allah, Allah berfirman aku tidak akan mengabulkan doa kaummu karena di antara kaummu ada satu orang yang berbuat dosa keji kepadaku. Nabi Musa bertanya kepada kaumnya, dijelaskan apa yang dikatakan Allah kepada kaumnya, siapa yang berbuat maksiat itu keluar dari barisan ini. Tidak ada yang mengaku. Nabi musa berdoa lagi, dan Allah masih mengatakan yang sama. Nabi Musa bertanya lagi, siapa yang dimaksud keluarlah dari barisan karena Alah tidak akan mengabulkan sampai orang yang berbuat dosa ini keluar dari barisan? Tidak ada yang mengaku. Berdoa lah Nabi Musa, Allah berfirman masih yang sama. Dan Nabi Musa bertanya lagi dan masih tidak ada yang mengaku. Nabi Musa berdoa, lalu dikabulkan doanya nabi Musa. Bertanyalah nabi Musa kepada Allah, ya Allah kaumku tidak ada yang mengaku berbuat dosa, kenapa Engkau mengabulkan doaku? Allah berfirman, yang berbuat dosa tadi telah bertaubat kepadaKu. Dan Nabi Musapun tidak tau siapa yang dimaksud satu orang ini yang berbuat dosa kepada Allah.

Allah Berfirman dalam surat Hujurat 6,10,11,12 :

6.  Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

10.  Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

11.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

12.  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Saudaraku,

Jika kalian membenci perkara bohong, bencinya kalian karena Allah membencinya.  Bukan sekedar karena kalian tidak suka dengan perkara bohong, bukan karena tidak suka ketika oranglain melakukan bohong kepada dirinya sendiri dan kepada kalian. Bukan karena kalian membenci bohong karena kalian tidak suka ketika diri kalian berbohong dan orang lain membohongi kalian.

Begitu lah dengan ghibah, bencilah karena Allah membencinya. Sebagaimana kalian tidak suka jika kalian berlaku ghibah dan aib kalian sendiri menjadi perbincangan orang lain, sebagaimana benci kalian ketika oranglain itu melakukan ghibah.

Hingga kita membenci semua maksiat, karena Allah benci kepada maksiat. Rasakan apa yang saudara kita rasakan.

Ya Allah,

Terlalu banyak aku bongkar aib – aib mereka, padahal mereka telah kau tutupi aibnya, padahal mereka tidak pernah ada niatan sedikitpun untuk membuka aibku, beruntung mereka telah yang ridho memaafkan ketika aku bongkar aib mereka. Rugilah diri ini terlalu banyak diri ini berbuat sia – sia, apalah gunanya diri ini sibuk mengurusi aib oranglain padahal diri ini penuh kehinaan.

Ampuni hambaMu ini, ya Allah.

Ibnu Islami

Yogyakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s