antara Cinta, Anshar dan Hunain.(part 1)

“Datanglah kepada Rasulullah dan tanyakan

‘Wahai Nabi yang terpercaya

Jika semua manusia dihitung

mengapa bumi sulaim tidak terpanggil

padahal mereka para pendahulu

merekalah yang memberi tempat

merekalah yang memberi pertolongan

anshar, itulah sebutan allah untuk mereka

karena jasa mereka menolong agamanya

mereka pejuang di medan perang

semua musibah mereka terima

tanpa takut tanpa kecewa”’

 

Syair seorang sahabat Hasan bin Tsabit, penyair kebanggaan Rasulullah dan orang – orang anshar melukiskan kekecewaan yang dirasakan orang – orang anshar disebabkan Nabi SAW tidak memberikan bagian dari ghanimah perang Hunain.

 

Wahai sekalian kaum anshar, aku(Rasulullah) mendengar kekecewaan kalian atas tindakanku.

 

Bukankah aku datang kepada kalian disaat kalian berada dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian?

Bukankah saat itu kalian dalam kondisi kekurangan lalu Allah mencukupi kalian?

Bukankah saat itu kalian saling bermusuhan lalu Allah mempersatukan hati kalian?

 

Mereka(orang – orang anshar) menjawab : Benar wahai Rasulullah. Allah dan RasulNya lebih pemurah dan lebih utama.

 

Rasulullah bersabda : Maukah kalian menyambut seruanku wahai orang – orang Anshar?

Mereka menjawab, dengan apa kami menyambut seruanmu wahai Rasulullah?

 

Rasulullah bersabda Demi Allah jika kalian mau, kalian pasti akan mengatakan dan kalian pasti membenarkannya dan dibenarkan.

 

‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, maka kami membenarkanmu

Engkau datang kepada kami dalam keadaan dikalahkan, maka kami menolongmu.

Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir, maka kami memberi tempat’

 

Wahai orang – orang Anshar apakah kalian jika aku memberi sedikit harta dunia kepada sekelompok orang agar mereka masuk islam, sedangkan kalian memiliki keislaman yang mantap?

Wahai orang – orang Anshar apakah kalian tidak puas jika orang lain pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang bersama diriku dalam rombongan kalian pulang?

 

Orang – orang Anshar langsung menangis tersedu – sedu hingga janggut mereka basah oleh air mata.  Para sahabat, orang anshar. Penolong agama Allah mengalami kecemburuan dikala itu, bukan hanya karena masalah ghanimah yang memang disaat itu menjadi suatu hal yang sangat penting terutama untuk mengganti biaya perang dan mempersiapkan untuk perperangan selanjutnya tapi karena pemberian langsung dari Rasulullah merupakan suatu yang sangat di dambakan oleh kaum muslimin di saat itu.

 

Rasulullah memang sungguh sebaik – baiknya orator pembangkit ghirah dengan susunan kata – kata yang tersusun penuh makna. Rasulullah mengajarkan bagaimana seorang muslim meminta tabayyun dari berita – berita yang ada, ingin mendengar langsung bagaimana perasaan dan pikiran orang – orang anshar.

 

“Wahai sekalian kaum anshar, aku(Rasulullah) mendengar kekecewaan kalian atas tindakanku”.

Kemudian Rasulullah hadir untuk mengingatkan kembali atas rahmatNya, nikmat yang satu lebih berharga dari nikmat satu yang lainnya.

 

Bukankah aku datang kepada kalian disaat kalian berada dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian?

Bukankah saat itu kalian dalam kondisi kekurangan lalu Allah mencukupi kalian?

Bukankah saat itu kalian saling bermusuhan lalu Allah mempersatukan hati kalian?

 

Di saat itu, Rasulullah mengingatkan siapakah yang telah memberikan itu semua, Dia-lah Allah Tuhan semesta alam yang tidak ada Tuhan melainkan diriNya. Rasulullah juga sekaligus menyanjung penuh sindiran yang bermakna.

 

Demi Allah jika kalian mau, kalian pasti akan mengatakan dan kalian pasti membenarkannya dan dibenarkan

‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, maka kami membenarkanmu

Engkau datang kepada kami dalam keadaan dikalahkan, maka kami menolongmu.

Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir, maka kami memberi tempat’

 

Kalaulah orang anshar mau mengatakan itu pastilah mereka mengatakannya, tapi mereka orang anshar adalah orang – orang yang dipuji Allah dalam AlQuran menunjukkan jasa mereka tidaklah ada apa – apanya dengan yang Allah dan RasulNya.

 

Mereka(orang – orang anshar) menjawab : Benar wahai Rasulullah. Allah dan RasulNya lebih pemurah dan lebih utama.

 

Kemudian Rasulullah tegaskan tentang hal itu. Wahai orang – orang Anshar apakah kalian tidak puas jika orang lain pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang bersama diriku dalam rombongan kalian pulang?

 

Sedangkan di saat matahari masih malu

aku berada di bawah kegelapan.

Lalu Allah memberikan petunjuknya,

Disaat itu aku

baru berjalan dari sekian lama aku terpasung dalam kesesatan.

 

InsyaAllah lanjut…

 

II

Yogyakarta 28 Maret 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s