Edisi Pertama(Pengantar)

I Quit

(Edisi Pertama : Pengantar)

Satu pesan dari seorang guru,

“Sesungguhnya sabar itu memiliki batas, di saat itu kita boleh berkata “saya sudah tidak sabar lagi, kesabaran saya sudah habis”, di saat itu dalam kita boleh mengatakan saya berhenti untuk tidak lagi bersabar. Begitu pula kita boleh mengatakan saya berhenti untuk tidak lagi sholat, saya berhenti untuk tidak lagi berzakat, saya berhenti untuk tidak lagi membaca Quran, saya berhenti untuk tidak lagi berpuasa, saya berhenti untuk tidak lagi bersilaturahmi, saya berhenti tidak lagi bersyukur, saya berhenti untuk bersedekah, saya berhenti tidak lagi untuk silaturahmi, saya berhenti untuk tidak lagi berdakwah, di saat kematian telah mendatangi kita.”

Ya, di saat itu(kematian datang) sudah bukan lagi “tempat dan waktu” kita untuk beramal, di saat itu kita hanyalah bisa mendapatkan apa yang telah kita lakukan, menunggu rahmat Allah untuk datang kepada kita.

Kita juga harus mengatakan “saya berhenti”, saya berhenti tidak lagi berpacaran, saya berhenti untuk tidak durhaka kepada orangtua, saya berhenti untuk tidak lagi berkata bohong, saya berhenti untuk tidak menyontek, saya berhenti untuk tidak lagi melalaikan perintah shalat, saya berhenti untuk tidak sombong, saya berhenti untuk tidak boros, saya berhenti untuk tidak lagi menzholimi diri sendiri dan orang lain, saya berhenti untuk tidak lagi melalaikan apalagi meninggalkan perintah Allah dan tidak lagi melakukan apa yang dilarang Allah. Di saat Allah masih memberi kesempatan kita untuk bertaubat, kapankah itu? Detik itu juga.

Sedikit banyak sering kali kita manusia mengatakan “saya berhenti” bukan pada saat perkataan itu harus dikatakan,”saya berhenti berdoa saja, doa saya tidak dikabulkan terus oleh Allah,  saya berhenti shalat saja, oranglain tidak shalat saja hidupnya kaya raya, saya yang shalat begini – begini saja, saya berhenti menjalin persaudaraan dengan dia, habisnya dia telah menyakiti perasaan saya, Saya berhenti bersedekah, tambah miskin saya bersedekah, saya berhenti mendoakan kedua orangtua saya, orangtua saya saja tak pernah baik dengan saya, saya berhenti percaya bahwa Tuhan saya adalah Allah, Dia Tuhan yang tidak mempedulikan saya.

Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya Aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. (QS: Al-Fajr 24)

Hingga datang penyesalan kita. Tiap – tiap amal, juga akan menghasilkan balasannya masing – masing. Maka dari itu saya berhenti untuk tidak mengatakan saya berhenti bukan pada saatnya.

Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan Aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Allah Telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.(QS 22:72)

Ibnu Islami

Yogyakarta

Wallahu a`lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s