Konsep dasar, Logika sederhana berbakti kepada orangtua.

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu”(Al -Mujadilah:11)

Berbakti kepada kedua orangtua bukanlah kedudukan yang rendah, biasa – biasa saja, tapi perkara yang sangat memiliki kedudukan sangat tinggi di dalam Islam. Pahala dan Dosanya sama – sama luar biasa, neraka dan surga sama – sama dijamin bagi pelakunya, durhaka dan berbakti.

Dalam beramal tentulah kita mendahulukan ilmu, Ilmu sebagai landasan amal adalah syarat diterimanya suatu amalan. Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikutnya.”( Ali Abi Thalib) .

Begitu pula dengan kita berbakti kepada kedua orangtua, karena ini sebuah amalan maka dari itu dibutuhkan ilmu pula dalam melaksanakannya. Kadangkala kita membuat berbakti kepada kedua orang tua terlalu sempit dan kadang terlalu luas. Diantara maksud itu,  kita melakukan bakti yang kecil, kita sudah mengatakan diri kita berbakti hingga kita tidak mau melakukan bakti yang besar, disisi lain ada pula yang meninggalkan perkara – perkara kecil padahal itu adalah wujud bakti kepada orangtua karena mengejar bakti yang langsung berbentuk besar, dengan kata lain perkara kecil bukan disebut bakti hanya perkara besarlah yang disebut bakti.

Kadangkala juga kita terlalu “saklek” terhadap amal apa yang harus dilakukan hingga disebut berbakti, cuci piring, berbenah rumah, nyuci baju, ngasih uang, beliin rumah, naikin haji orangtua, hingga kita kebingungan sendiri karena itu sehingga kita tidak jadi melakukan bakti sedikitpun, nyuci baju udah ada orang yang dibayar untuk mencuci, cuci piring dan berbenah rumah udah dilakuin sama kakak atau adik, ngasih uang belum kerja, beliin rumah dan naikin haji orangtua belum punya uang.

Sebenarnya berbakti kepada orangtua memiliki konsep dasar, konsep dasar inilah yang disebut ilmu. Ilmu ini insyaAllah menjadi landasan amal kita untuk berbakti kepada kedua orangtua.

Konsep dasar, logika sederhana berbakti kepada kedua orangtua yaitu KITA MENJADI ANAK YANG SHALEH. Kita menjadi anak yang shaleh, inilah yang disebut berbakti kepada kedua orangtua, dan inilah yang mencakup semua amalan bakti kita kepada kedua orangtua, bukan hanya memberi uang, bukan hanya berbenah rumah, dan bukan hanya patuh segala perintah mereka.

 

Banyak ditemukan Orangtua yang tidak mengerti agama maupun mengerti, ketika mereka punya anak, mereka ingin anaknya menjadi anak yang shaleh, sepreman apapun, sejahat apapun, di hati kecil mereka, mereka sangat ingin anaknya menjadi anak yang shaleh atau setidaknya lebih baik dari mereka. Tak jarang, ketika ditanya “Ibu anaknya mau jadi apa? Ya saya mau anak saya menjadi anak yang shaleh, berguna untuk dirinya, keluarga, orang lain dan bangsanya, atau doa – doa yang sejenis yang berakar pada shaleh.

Doa – doa seperti ini, sepertinya sudah turun temurun, dari kakek buyut, kakek, orangtua, hingga turun lagi ke anak dan cucunya yang menjadi orangtua.

Sebaik – baiknya manusia, dialah yang bermanfaat bagi sesama.

Tepat, seorang disebut anak shaleh ketika dia bermanfaat bagi orang lain. Keterikatan seorang anak takkan terputus hingga Allah tetapkan masuk surga atau neraka. Ketika seorang anak menjadi shaleh, maka orangtuanya juga akan mendapatkan pahala dari sang anak karena anak yang shaleh insyaAllah senantiasa melakukan kebaikan dalam hidupnya. Senantiasa berbuat baik, dengan kebaikan inilah, dirinya dan oranglain mendapatkan kebermanfaatan. Anak shaleh, akan menghasilkan pribadi yang mampu menjadikan kebaikan di tiap waktu yang dilewatinya, ketika dia sekolah, dia bersungguh – sungguh mencari ilmu, menjadikan ilmunya menjadi kebermanfaatan, ketika dia menjadi seorang perkerja, maka dia melakukan perkerjaan dengan cara yang tidak melanggar hukum – hukum Allah, berdagang dengan cara yang baik dan benar, ketika menjadi suami atau istri, maka dia akan menjadi suami atau istri yang baik, di tiap waktunya di berbagai kondisi, kebaikan yang dilakukan atau diperoleh akan mengalir kepada kedua orangtuanya. Hingga sang Anak mempunyai anak lagi, dia mampu mendidik anaknya menjadi anak yang shaleh, maka anak shaleh dari anak yang shaleh, maka neneknya insyaAllah akan mendapatkan pula aliran pahala dari sang cucu, karena anaknya mampu mendidik anaknya(cucu) menjadi anak yang shaleh. Karena mendidik anak menjadi anak yang shaleh adalah kebaikan. Anak shaleh pula yang senantiasa mendoakan kedua orangtuanya.

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya(HR Muslim)

Memberi uang, membelikan rumah, menjamin kehidupan orangtua, ini adalah bentuk perhatian kita sebagai seorang anak, tapi belum tentu menjadikan diri sebagai anak yang shaleh. Betapa banyak contoh, sang anak hanya memberikan rumah, uang, segala macam kekayaan tapi dia tidak mau mengunjungi orangtuanya, menempatkan orangtua dipanti jompo, tapi InsyaAllah kalau kita menjadi anak yang shaleh, maka bentuk perhatian ini adalah buah dari keshalehan kita ketika kita mendapatkan kelapangan rezeki dari Allah SWT.

 

Konsep dasar inilah yang saya akan berikan kepada kalian yang insyaAllah menjadi kesadaran bagi diri kita(khususnya saya) untuk selalu senantiasa memperbaiki diri, menjadi pribadi yang shaleh, dan InsyaAllah Allah akan mengumpulkan kita bersama orangtua kita di surgaNya(Allah), surga Firdaus.

  •  Berilmu
  • Beramal
  • Bermanfaat

Ibnu Islami

(Yogyakarta,1 syawal 1432 H)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s