Senantiasa Menyakitinya

Saudaraku,

Setiap keturunan Adam, dia dilahirkan dari seorang wanita yang biasa kita sebut ibu. Betapa dasyatnya beliau, dan semoga ini menjadi renungan bagi kita.

Perjalanan hidup kita, 9 bulan dalam kandungannya. Dari awal saja, kita sudah menyakitinya, membuat beliau sakiti, mual, pusing,muntah adalah tanda adanya saat diri kita di dalam perutnya. Dia sangat senang ketika mengetahui kita berada di dalam rahimnya. Dari awal tak ada rasa sedih dia memiliki kita.

Berapa bulan berlanjut,perutnya membesar,berat badan bertambah, rasa tanggung jawabpun brtambah. Selama 9 bulan itu,dia harus sangat hati – hatiku dalam membawa diri kita.

Dia rela membawa kita kemanapun dia pergi. Menjaga kita di setiap langkahnya. dia rela membagi makanannya kepada kita, dia makan makanan yang terbaik untuk kita. Dia tidak pernah malu. Dia tidak pernah merasa terbebani,meskipun dia membawa tanggung jawab ini yaitu diri kita.

Lalu disaat ini,

lagi – lagi kita menyakitinya, sangat sakit yg dia rasakan. Detik – detik kelahiran dan saat melahirkan diri kita. Dia mempertaruhkan nyawanya dan dia ingn kita lahir dgn selamat, bahkan tak terpikirikan keselamatan dirinya sendiri.

Dan ketika kita disusui, kita kembali menyakitinya. Tapi sakit itu tertutupi oleh kebahagian yg dirasakan dia akan adanya diri kita. Kita dirawatnya dengan baik.  Sampai disini kita masih menyakitinya. Kita menyibukkan dia untuk mengurusi diri kita. Kita sering membangunkan dia tengah malam karena tangisan kita.

Kasih sayangnya senantiasa ada, kita tengok disaat kita balita, dia makin menyayangi kita. Dia belikan kita mobil – mobilan, boneka, robot – robotan, pakaian bagus, topi, mengajak kita jalan, dia belikan kita coklat,permen yang, es krim yang kita minta dengan tangisan.

Beranjak ke sekolah. Dia mendaftarkan diri kita kesekolah, dia ingin kita harus sekolah, kita harus pintar. Dia ceritakan ke orang – orang, ini adalah anak saya, dengan bangga dia menceritakan kita. Di kelas 1 dia mengantarkan dan menjemputnya kita sekolah. Ketika kita naik kelas, dia memberikan selamat kepada kita, dia berikan hadiah untuk kita . Lalu semakin beranjak besar di tiap tahun, apakah kasih sayang dia telah berkurang? Tidak, bahkan bertambah tapi dia punya banyak hal kasih sayang yang diberikan kepada kita.

Semakin kita bertambah umur, ternyata semakin kita menyakitinya. Kita sudah mulai berbohong, nakal,dan melawan kepadanya. Semakin kita tumbuh dewasa, kita makin menyakitinya. Kita berani membentaknya,bermata tajam kepadanya,menghina nya.

Dia senantiasa memaafkan kita, kasih sayangnya kepada kita tetap diberikan olehnya. Dan kini,ketika kita brhasil. Kita menyakitinya lagi , kita menghitung – hitung bakti kita kepadanya, sombong akan keberhasilan kita, merasa semua ini karena diriku kita sendiri. Tak bangga bercerita tentang dia kita di depan teman – teman kita sebagaimana dia selalu bangga bercerita tentang diri kita.

Saudaraku

Meskipun kita mencuci kotorannya di saat dia senja, merawatna dimasa tuanya, memberinya uang, rumah, memberinya makan, banyak harta. Sesungguhnya Itu takkan melebihi jasa,jerih payah,kasih sayang yg dberikan ibu kita kepada diri kita, bahkan tak melebihi satu hal yaitu pada saat ibu kita melahirkan diri kita.

  • Berilmu
  • Beramal
  • Bermanfaat

Ibnu Islami

Jakarta dan Yogyakarta

Wallahu`alam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s